Wednesday, April 1, 2020

TEKNIK PROTOTYPING

Prototyping adalah pengembangan cepat dan pengujian model kerja. Prototyping
merupakan proses dalam tahapan desain yang membutuhkan proses interaktif dan berulang.
Prototyping membuat pengembangan sistem berjalan lebih cepat dan mudah, terutama
ketika keinginan end user sulit didefinisikan.
Prototyping dapat diartikan sebagai suatu teknik yang efektif untuk meningkatkan proses
pembangunan sistem bagi end users (pengguna sistem informasi) dan bagi IS specialists
(para spesialis) sistem informasi karena :
1. Pembuatan prototyping dilakukan secara bertahap tidak langsung mencakup
keseluruhan sistem aktual.
2. Menghemat biaya yang dikeluarkan
3. Menghemat waktu yang dibutuhkan karena sifatnya yang bersifat uji-coba,
mempersiapkan prototype membutuhkan waktu lebih singkat daripada mempersiapkan
sistem yang siap launcing.
4. Kekurangan dan kesalahan sistem dapat diketahui dengan segera dalam prototyping,
pengembangan sistem dilakukan secara bertahap

Jenis-Jenis Prototyping

1. Feasibility prototyping
Digunakan untuk menguji kelayakan dari teknologi yang akan digunakan untuk system
informasi yang akan disusun.
2. Requirement prototyping
Digunakan untuk mengetahui kebutuhan aktivitas bisnis user. Misalnya dalam sebuah
perusahaan terdapat user, direktur, manajer, dan karyawan. Maka penggunaan sistem
dapat dibedakan berdasarkan user tersebut sesuai dengan kebutuhannya.
3. Desain Prototyping
Digunakan untuk mendorong perancangan system informasi yang akan digunakan.
4. Implementation prototyping
Merupakan lanjutan dari rancangan protipe, prototype ini langsung disusun sebagai
suatu system informasi yang akan digunakan.

Prototipe Kategori Dasar
Tidak ada kesepakatan umum tentang apa yang merupakan “prototipe” dan kata ini
sering digunakan bergantian dengan “model” kata yang dapat menyebabkan kebingungan.
Secara umum, “prototipe” jatuh ke dalam lima kategori dasar :
  • Proof-of-Prinsip Prototype (Model).prototipe tersebut dapat digunakan untuk

“membuktikan” keluar pendekatan desain yang potensial seperti rentang gerak,
mekanika, arsitektur sensor,, dll jenis model yang sering digunakan untuk
mengidentifikasi pilihan desain tidak akan bekerja, atau di mana pengembangan
lebih lanjut dan pengujian diperlukan.
  • Formulir Studi Prototype (Model). Jenis prototipe akan memungkinkan desainer

untuk mengeksplorasi ukuran dasar, tampilan dan nuansa dari suatu produk tanpa
simulasi fungsi aktual atau tampilan visual yang tepat dari produk. Mereka dapat
membantu menilai faktor ergonomis dan memberikan wawasan tentang aspek
visual dari bentuk akhir produk.
  • Pengalaman Pengguna Prototype (Model). Sebuah Pengalaman Pengguna Model

mengundang interaksi manusia aktif dan terutama digunakan untuk mendukung
pengguna fokus penelitian. Sementara sengaja tidak menangani perawatan estetika
mungkin, model jenis ini tidak lebih akurat mewakili ukuran keseluruhan, proporsi,
antarmuka, dan artikulasi konsep menjanjikan.
  • Visual Prototype (Model). akan menangkap estetika desain yang dimaksudkan dan

mensimulasikan, warna dan tekstur permukaan tampilan produk yang dimaksudkan
tetapi tidak akan benar-benar mewujudkan fungsi (s) dari produk akhir. Model ini
akan cocok untuk digunakan dalam riset pasar, review eksekutif dan persetujuan,
kemasan mock-up, dan tunas foto untuk literatur penjualan.
  • Fungsional Prototype (Model) Prototipe fungsional dapat dikurangi dalam ukuran

(skala bawah) untuk mengurangi biaya. Pembangunan prototipe skala penuh
sepenuhnya bekerja dan uji akhir konsep, adalah pemeriksaan terakhir para insinyur
‘untuk cacat desain dan memungkinkan perbaikan menit-menit terakhir akan
dilakukan sebelum menjalankan produksi yang dipesan.

Tahapan-Tahapan Prototyping

Tahapan-tahapan dalam Prototyping adalah sebagai berikut:
1. Pengumpulan kebutuhan.
Pelanggan dan pengembang bersama-sama mendefinisikan format seluruh
perangkatlunak, mengidentifikasikan semua kebutuhan, dan garis besar sistem yang
akan dibuat.
2. Membangun prototyping.
Membangun prototyping dengan membuat perancangan sementara yang berfokus pada
penyajian kepada pelanggan (misalnya dengan membuat input dan format output).
3. Evaluasi protoptyping.
Evaluasi ini dilakukan oleh pelanggan apakah prototyping yang sudah dibangun
sudahsesuai dengan keinginann pelanggan. Jika sudah sesuai maka langkah 4 akan
diambil. Jika tidak prototyping direvisi dengan mengulangu langkah 1, 2 , dan 3.
4. Mengkodekan system.
Dalam tahap ini prototyping yang sudah di sepakati diterjemahkan ke dalam bahasa
pemrograman yang sesuai.
5. Menguji system.
Setelah sistem sudah menjadi suatu perangkat lunak yang siap pakai, harus dites
dahulusebelum digunakan. Pengujian ini dilakukan dengan White Box, Black Box,
Basis Path, pengujian arsitektur dan lain-lain.
6. Evaluasi Sistem
Pelanggan mengevaluasi apakah sistem yang sudah jadi sudah sesuai dengan yang
diharapkan . Jika ya, langkah 7 dilakukan; jika tidak, ulangi langkah 4 dan 5.
7. Menggunakan system.
8. Perangkat lunak yang telah diuji dan diterima pelanggan siap untuk digunakan.

Desain Prototipe
Bentuk evaluasi daya guna dan sekaligus untuk mendapatkan umpan balik dilakukan
dengan membangun dan mengevaluasi prototipe. Untuk meningkatkan kompleksitas, perlu
dilakukan hal-hal berikut :
  • Verbal Prototipe : deskripsi tekstual dengan aneka pilihan dan hasil.
  • Paper Mock-ups : sketsa screen design dan print-out screen design.
  • interaksi Sketsa : penyusunan sketsa interaktif dengan tulisan tangan
  • Working Prototipe : interaktif dan implementasi kerangka

Ada tiga bentuk working prototype, yaitu :
  • Vertical Prototype : kemampuan sistem hanya ditampilkan sebagian
  • Horizontal Prototype : semua interface ditampilkan tetapi kemampuannya tidak ditampilkan
  • Scenario Prototype : hanya menampilkan sebagian fitur dan fungsi